Senin, 15 April 2013

ALIRAN - ALIRAN DALAM FILSAFAT


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap paham yang lahir adalah merupakan reson, kritik, reaksi terhadap paham sebelumnya. Lahirnya filosof yunani kuno di sebabkan karna tidak adanya penghargaan terhadap akal pada masa itu, begitu juga lahirnya filsafat abad pertengahan karna pemikiran yag terlalu bebas dan seharusnya mengikuti ajaran agama.
Di lanjutkan filsafat medern yang melahirnkan sebuah kebebasan berfikir sehingga lahirnya beberapa aliran yang memisahkan negara dan agama sehingga agama hanya di anggap sebuah bungkus untuk melengkapi sebuah kawajiban saja. Tanpa harus menjalankannya semaksimal mungkin.
Aliran filsafat yang beragam berasal dari beberapa fundamental atau ide-ide dasar babbarapa aliran filsafat, seperti : Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Postivisme, Dialektika dan lainnya. Beberapa aliran ini kini melahirkan berbagai aliran yang bercabang hingga kini.

B. Rumusan masalah
1.      Bagaimanakah aliran rasionalisme yang di usung oleh Rene descartes terbentuk?
2.       Apa penyebab lahirnya aliran filsafat empirisme?
3.      Bagaimana immanuel kant menggabungkan kedua aliran dalam kritisisme?
4.      Bagaiman pengaruh positivisme dalam dunia metefisik?

C. Tujuan penulisan
1.      Mengetahui cara berfikir aliran rasionalisme
2.      Memahami corak fikir aliran empirisme
3.      Mengetahui cara immanuel kant menggabungkan kedua aliran filsafat sebelumnya.
4.      Mengetaui efek dari lahirnya aliran positivisme


BAB II
PEMBAHASAN
ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT
A. Rasionalisme
Adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa dasar sebuah kebenaran adalah akal fikiran itu sendiri, merupakan usaha manusia untuk memberikan akal suatu kedudukan yang ‘berdiri sendiri’.
Rasionalisme adalah aliran yang terlahir karna keraguan yang di alami oleh Rene descartes, ia merasa ketidak pastian merajalela pada zaman itu dalam kalangan filosof. Adapun metode yang ia gunakan adalah methode baru yaitu ‘keraguan’ yang menuju ‘kepastian’ yang sebenarnya.
‘cogito ergo sum’ (aku berfikir maka aku ada) melambangkan keraguan descartes telah mencapai tahap tinggi, bahkn ia meragukan keberadaan nya sendiri. Ia berfikir atas ‘keraguan’nya dan menemukan sebuah kepastian bahwa selama iamasih bisa berfikir maka ia bisa meyakini bahwa sebenarnya ia ada, dan itu lah ‘kepastian’ yang descartes cari. Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu.
Menurut Descartes pada dasarnya lahirnya manusia membawa 3 kebenaran hal dalam hidupnya yaitu : fikiran, ALLAH, dan keluasan.
·         Mengapa fikiran? Karna bila saya memahami diri sebagai mahluk yang berfikir maka sesungguhnya hakekat saya adalah fikiran.
·         Mengapa ALLAH?  Kalau saya memiliki idea yang sempurna, maka akan ada yang menyebabkan sempurnanya idea itu, dan haruslah penyebab lebih kuasa dari akibat.
·         Mengapa pula keluasan? Saya mengerti meteri sebagai keluasan (eksistensi).
Maka dari pada itu menurut descartes rasiolah yang menjadi sumber dan pangkal segala pengertian dan budilah yang memegang pimpinan dalam sagala pengertian. Pengertian aliran ini sangat mengagungkan rasio sehingga dilebih-lebihkan oleh descartes dengan mengabaikan nilai pengetahuan indra, yang menurutnya kerapkali menyesatkan manusia[1].
 Akibat dari keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal, manusia berharap menciptakan dunia baru yang lebih sempurna, dunia baru yang di pimpin oleh akal sehat manusia, sehingga mereka melupakan teosentris yang di ajarkan pada abad pertengahan.
Secara ringkas 2 hal pokok dalam ciri pikiran rasionalisme :
a.       Adanya keyakinan bahwa kebenaran  yang hakiki itu secara langsung dapat di peroleh dengan menggunakan akal.
b.      Adanya suatu penjabaran secara logik atau deduksi rinci yang di maksudkan untuk membuktikan pengetahuan berdasarkan kebenaran hakiki yang di sebut di atas.
Tokoh filosofnya adalah Rene Descartes (1596- 16  ), Baruch Spinoza (1632-1677) , Blaise Pascal (1623-1662), Leibniz (1632-1677). 

B. Empirisme
Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.
Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Bagi Bacon haruslah sebuah ilmu pengetahuan itu berasal dari induksi, yang menggunakan pengalaman sebagai sumber pengetahuan nya. Karna baginya manusia lahir ke dunia tidak meiliki ide-ide bawaan (innate ideas). Bagi empirisisme manusia lahir bagai kertas putih yang belumterisi oleh apa-apa. Dan baru terisi setelah memiliki pengalaman lahiriah maupun bathiniah.
Bacon memperkenalkan methode eksperiment dalam sebuah penyelidikan atau penelitian. Menurutnya manusia melalui pengalamannya dapat mengetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda.
Bacon memperingati para ilmuan untuk berhati-hati dengan idola-idola (yunani- khayal, kekeliruan,) :
1.      Idola tribus yaitu menarik kesimpulan secara terburu-buru.
2.      Idola specus yaitu menarik kesimpulan sesuai dengan seleranya.
3.      Idola fori yaitu menrik kesimpulan berdasarkan pendapat orang banyak.
4.      Idola theatri yaitu menarik kesimpulan berdasarkan ilmuan sebelumnya.[2]
 secara  ringkas dapatkan disimpulakan bahwa ciri khas empiristik adalah posteriori dan proposisinya adalah sintetik, yakni dapat di uji kebenaran nya dengan cara menganalist pernyataan dan juga harus di uji secara empiriknya.
Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.[3]
Tokoh-tokohnya: Francis Bacon (1210 -1292), Thomas Hobbes ( 1588 -1679), John Locke ( 1632 -1704),George Berkeley ( 1665 -1753), David Hume ( 1711 -1776), Roger Bacon ( 1214 -1294).

C. Kritisisme
pada rasionalisme dan empirisme terlihat sangat jelas pertentangan antara akal budi dan pengalaman, dan menimbulkan sebuah pertanyaan ‘manakah sumber pengetahuan yang benar?’ masing-masing meminta untuk kedaulatan sepenuhnya, masing-masing juga memiliki kasukaran.
Immanuel kant seorang filosof jerman menjebatani dua ajaran yang bertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Menurut immanuel kant Kritisisme adalah sebuah teory pengetahuan yang menjadi hasil akhir  yang di peroleh dari kerja sama dua komponen.
Untuk menyelesaikan permasalah antara rasionalisme dan empirisme, kant mengemukakan bahwa pengetahuan itu seharusnya ‘sintesis a priori’. Sistesis priori membutuhkan kerja sama antara  akal budi dan pengelama indrawi.
Bagi kant pedoman sesusilaan adalah : berbuatlah demikian, sehingga pedoman tingkah mu itu berlaku bagi seluruh manusia. Karna manusia pada umumnya lah yang menjadi pedoman dan ukuran segala tingkah laku, bukan individu.
Barang siapa yang berpedoman seperti di atas, maka ia adalah individu yag bersusila. Bertindak menurut kesadaran akan kewajiban itu lah yang terbaik. Dan ‘kesadaran kewajiban’ menurut kant adalah : kemerdekaan (kehendak), ketidak-matian jiwa,dan Tuhan. Oleh karna itu kant adalah orang yang percaya tuhan dan mengakui adanya kesusilaan.
Selanjutnya kant mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus lah bersifat ‘sintesis’. Pengetahuan indrawi merupakan sistesis dari luar, bentuk,  ruang, dan waktu sedangkan pengetahuan akal budi adalah sintesis dari data-data yang di peroleh oleh data indrawi.
 Ia berusaha meneliti kemampuan dan batas-batas rasio. Ia memposisikan akal dan rasa pada tempatnya, menyelamatkan sains dan agama dari gangguan skeptisisme.Dengan menggunakan cara tersebut kant membuat ilmu pengetahuan lebuh berkembang dan imbang antara akal ddan pengalaman indrawi. Dan ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat di kemudian hari.

D. Positivisme
Sementara itu muncullah sebuah aliran di Prancis yang disebut Positivisme yang di tokohi oleh August comte. Filsafat comte anti-metafisis, ia hanya menerima fakta yanng di temukan secara positif-ilmiah, dan menghindari semua yang membahas dan mengatasi bidang ilmu yang positiv.
‘savoir pour prevoir’ (mengetahui supaya siap untuk bertindak), adalah semboyang comte yang terkenal yang artinya adalah manusia harus menyelidiki gejala segala sesuatu dan hubungan antar gejala supaya dapat diramalkan apa yang akan terjadi.
Adapun menurut comte akal budi memiliki 3 tingkatan pada tiap jalan hidup manusia. Tingkat pertama adalah tingkat teologi, yang menerangkan segala sesuatu dangan pengaruh dan sebab-sebab yang melebihi kodrat; tingkat kedua adalah tingkat metafisika yang hendak menerangkan segala sesuatu melalui abtraksi;dan tingkatan tertinggi adalah tingkatan positif yang hanya menerangkan yang sungguh-sungguh serta sebab-akibat yang sudah tertentukan.[4]
Filsafat comte di sebut juga empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan dengan seiring. Tidak mungkin pengamatan di lakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori, dan pengamatan tidak boleh ‘terisolasi’ oleh teori lain. Dengan kata lain antar teori harus belence.
Tokoh-tokoh nya: August comte (1798-1857), H Teine (1828-1893), Emile Durkehim (1858-1971), Jhon Stuart Mill (1806-1873)

E. Aliran filsafat dewasa kini
Seperti yang kita bahas sebelumnya bahwa Setiap paham yang lahir adalah merupakan reson, kritik, reaksi terhadap paham sebelumnya. Maka bebrapaaliran di bawah ini adalah reaksi dari aliran-aliran besar di atas.
1. Materialisme

Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. 
Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat.

2. Prgmatisme

Dalam hal ini penganut pragmatisme hanya mengerti kata ‘praktis’, persesuaian antara objeknya tidak mungkin di sesuaikan maka yang di fikirkan adalah ‘gunanya’ (yunani: pragma-guna) untuk mempengaruhi perubahan dunia. 
Bagi Dewey manusiabergerak kesungguhan yang selalu berubah-ubah. Jika ia menghadapi sebuah kesulitan maka ia akan berfikir untuk menyelesaikannya. Maka berfikir tidak lain adalah alat dari pada bertindak. Kebenaran itu di ukur dari berhasil atau tidakmempengaruhi kesungguhan. Filsafat Jhon Dewey banyak pengaruhnya dalam dunia pendidikan.

3. Eksistensialisme

Tak ada aliran yang menjadi pembahasan yang lebih panjang hingga masakini melebihi pembahasan tentang eksistensialisme. Karna di dalamnya terkandung ajaran-ajaran yang sangat berbeda.
Sifat-sifat eksistensialist :
a.       Orang yang menyuguhkan dirinya (existere) dalam kesungghan yang tertentu.
b.      Orang harus berhubungan dengan dunia.
c.       Orang merupakan kesatuan sebelun berpisah antara badan dan jiwa.
d.      Orang berhubungan dengan ada.[5]
Aliran ini menjadi mode filsafat di pertengahan abad 20, dan mendapat reaksi dari aliran strukturalisme, jika aliran ini memiliki sifat individualis namun strukturalis lebi mengedepankan ‘keterkuungan manusia’ dalam menjalani kehidupannya.

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
 Setiap aliran yang terlahir adalah merupakan respon dari aliran yang sebelumnya, dari beberapa aliran fundamental di atas akan terlahir kembali aliran-aliran perespon nya, dan itu tidak akan berhenti terus bertransisi selama manusia masih menggunakan fikiran nya untuk berfikir.
Setiap ajaran memang baik bila di jalani semaksimal mungkin namun akan menjadi sebuah ke-ekstriman tersendiri jika itu menjadi sebuah aliran yang fanatik dan menafi’kan semua ajaran yang selainnya.
Demi kelancaran beberapa aliran maka terjadilah pluralis realita yang mengharuskan kita untuk saling menghormati dan juga menjudge aliran lain tanpa harus mengikuti aliran tersebut.


















[1] Pembimbing ke alam filsfat,poedjawidjadna,1997.h101
[2] ‘filsafat ilmu’ Drs. rizal muntsyr M.Hum. h 79
[3]‘ Sekilas pandang tentang aliran filsafat modern’ Dra.erika ravida. h 1
[4] Pembimbing ke alam filsfat,poedjawidjadna,1997.h120

[5] Ibid h 142

Tidak ada komentar:

Posting Komentar